Related Jadilah Seperti Padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk | Bacalah Kisah Ini Wahai Sahabatku | INTISARI9 Jadilah Seperti Padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk | Bacalah Kisah Ini Wahai Sahabatku | INTISARI9

Jadilah Seperti Padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk | Bacalah Kisah Ini Wahai Sahabatku


IntiSari9 - Imam al-Mawardi adalah ulama masyhur sekaligus ahli fikih pada mazhab Hanafi. Dengan keluasan ilmunya beliau pasti mampu menjawab berbagai permasalahan umat. Kepandaian nya lambat laun menimbulkan rasa bangga pada dirinya sampai terbesit dalam hati, " Apakah ada masalah fikih yang tidak bisa aku selesaikan? Semuanya pasti beres."

Suatu ketika setelah masuk masjid, beliau kedatangan seorang perempuan tua dengan anak wanitanya untuk menanyakan masalah haid serta kebiasaan yang dialami putrinya.
"Berikan penjelasan kepada kami, semoga Allah merahmatimu," pinta sang ibu.
Pertanyaan itu deanggap sepele oleh sang Imam, namun saat akan menjawab tiba-tiba pikirannya buntu. Beliau menceritakan, "Sampai muridku heran dan tidak ada di antara mereka (muridku) yang mampu menjawabnya. Padahal sang ibu dan puterinya sudah menanti."

Untunglah ketika akan keluar masjid ada murid yang ditanya sang ibu sehingga dijawabnya pertanyaan itu dengan baik dan benar. "Anda lebih baik dari orang yang ada di sana," kata ibu itu sambil mengarahkan pandanganya kepada Imam al Mawardi. Sejak saat itu Imam al Mawardi menyadari bahwa yang patut sombong hanyalah Allah, dia telah memberi peringatan kepada dirinya karena merasa serba bisa dan bangga atas potensinya, pada hal segalanya dari Allah.

Setiap orang pasti senang punya seorang kawan yang memiliki kepandaian dan keahlian yang bisa dimanfaatkan bagi masyarakat luas. Apalagi jika teman tersebut memiliki kepribadian yang baik, rendah hati, dan tidak sombong. Namun tidak semua orang cendekia berkarakter seperti itu. Lebih menyakitkan, jika ia meremehkan orang lain.

Rasulullah Saw. adalah pribadi yang rendah hati sekali pun beliau adalah orang yang paling berilmu dan bertakwa diantara umat manusia. Tapi beliau tidak pernah mentang-mentang apa lagi merendahkan umatnya. Suatu ketika ada orang memanggil beliau dengan ucapan, "Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik dan anak orang yang terbaik diantara kami, wahai junjungan kami dan anak dari junjungan kami."

Rasulullah saw. segera menyanggah ucapan itu, "Wahai sekalian manusia, katakanlah sewajarnya saja. Jangan sampai kamu digelincirkan setan. Aku adalah Muhammad, hamba Allah dan rasul-Nya. Aku tidak mau kamu angkat di atas kedudukan yang dianugrahkan Allah kepadaku."
Dilain waktu, ada sahabat pergi bersama delegasi Bani Amir untuk menemui Rasulullah saw. kemudian mereka mengucapka, "Engkau adalah sayyid (penguasa) kami." Ketika Rasulullah saw. menimpali, "Assayyidullaahu  Tabaraka wa Ta'ala," Sayyid (penguasa) kita adalah Allah Tabaaraka Wa Ta'ala."

Begitulah kerendahan hati Rasulullah saw. terhadap kedudukan yang dimilikinya. Hal ini selayaknya membuat kita intropeksi karena kita mudah terjebak dalam kesombongan yang tak bertepi. Entah kelebihan itu berupa ilmu, kedudukan, atau kekayaan. Kita tidak segan menganggap rendah orang lain karena kedudukannya di bawah level. Kita umumnya seperti asap yang semakin membumbung tinggi bila terhempas angin, bukan seperti padi yang semakin berisi makin merunduk.

Sehebat apa pun, manusia hanyalah ciptaan yang tidak berdaya dan sering berbuat salah. Itulah karakter abadi manusia. Allah mengingatkan dalam hadist qudsi, "Sombong itu selendang-Ku dan kebesaran itu sarung-Ku, barangsiapa yang melawan-Ku dalam salah satunya, maka ia Aku lemparkan kedalam neraka." (HR Abu Dawud).


sumber : islamyca.blogspot.co.id
Jadilah Seperti Padi, Semakin Berisi Semakin Merunduk | Bacalah Kisah Ini Wahai Sahabatku Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Teuku Opa Ardiansyah

0 komentar:

Posting Komentar